Langsung ke konten utama

Unggulan

Grubi kremes

Di pelataran rumah, tersaji kapas oranye dengan semburat malu malu di mataku. Tangan dan tenggorokan ku rasanya hangat, ku teguk lagi cairan wangi itu. Di sisi lain, aku ditemani sesuatu yang spesial... Si cokelat manis, sedikit keras kepala seperti yang ku tahu. Aku biarkan itu berdansa di mulutku, sama seperti waktu itu. Agak lengket, kali itu hanya aku. Sepertinya sudah cukup, aku menyukainya, tapi gigiku mulai sakit... Mungkin besok aku kembali memakannya lagi?

Jawaban #08 (Ending, but not the end)

 Halo, sepertinya sudah sangat lama semenjak terakhir kali aku menulis tentang mu disini. Aku baik-baik saja, kuharap kamu pun begitu. Jadi begini, setelah beberapa tahun belakangan ini tetap bertahan dengan rasa yang tidak jelas. Hari ini aku membawa kabar, aku berhenti.

Ya, aku dengan mantap berhenti dari segalanya tentang kamu.


Kali ini aku baik-baik saja, bahkan aku berhasil berdamai dengan Reno. Jujur, aku masih serapuh saat bersama denganmu. Aku kaget kamu sadar lebih dalam tentangku saat itu, tapi kamu memang benar. Aku layaknya bunga dandelion, mudah sekali untuk hancur ketika tertiup angin.

Mungkin tulisan ini akan terasa sangat panjang. Kuharap jika kamu membuka blog ini, kamu mau betah untuk membaca tulisanku (yang mungkin terdengar terlalu mengada-ada) ini dari awal sampai akhir. Karena di halaman ini, aku mau menulis kesanku (secara garis besar) selama bertahun-tahun. Juga aku ingin menunjukan beberapa puisi yang kubuat untukmu selama ini, yang aku lupa untuk tulis disini.


Kalau kamu selama ini masih menggunakan line, dan kamu masih menyimpan kontak line ku. Kamu pasti paham betul, aku suka merangkai kata. Beberapa adalah isi dari kepalaku, namun sebagian besarnya lagi adalah isi dari hatiku. 

Maaf ya, aku beberapa kali mengabadikan kamu dalam tulisan tanpa izin. Bahkan aku juga pernah membuat sketsa wajahmu, kamu manusia pertama yang aku abadikan ke setiap karya yang aku buat. Memang tidak terlalu bagus, tapi aku serius dalam membuatnya.


Pertama kali kamu jujur tentang perasaanmu, aku sangat senang. Saking senangnya, sepanjang hari itu aku terus memajang senyuman di wajahku. Aku memang sudah tahu dari awal kalau kamu punya rasa yang sama denganku, namun ketika kita saling jujur satu sama lain. Ketika itu rasanya seperti menemukan harta karun, aku juga lega bisa bertanya tentang apa yang selama itu aku ingin tanyakan. Apalagi kita sempat mendingin selama hampir setahun, aku sudah ingin pasrah saja waktu itu. Tapi jujur saja, aku sedikit ragu lama kelamaan. Karena kamu selalu ingin sembunyi-sembunyi tentang kita, waktu itu aku percaya saja.



13/4/2020 : Aku yang sedikit meragu karna bagai mimpi

Maaf, Tuan.
Malam ini ragu lagi-lagi menyerang
Ntah sudah yang keberapa kalinya
Tapi, Tuan percaya kan?
Aku selalu melawan semuanya
Demi apapun
Aku tak mau ada yang tersakiti lagi

Aku ingin coba bertahan
Bertahan bersama mu, Tuan
Sudah lelah aku berlayar kesana kemari
Singgah
Adalah pilihan terbaik ku saat ini

Sudah berapa lama kata mu?
4 tahun memang sangat lama ya
Maaf, aku baru ingin singgah baru-baru ini
Tapi aku sadar satu hal
Selama 3 tahun terakhir
Nyatanya aku memang berharap hal yang sama

Terima kasih
Tuan sudah mau menunggu ku
4 tahun terakhir aku yakin banyak kupu-kupu mampir
Tapi, sekali lagi terima kasih
Tuan lebih memilih bersabar sedikit lagi
Dan memilih aku, yang banyak kurangnya ini

Kalau semua sudah kembali normal, mari kita berdiskusi lagi:)



Aku masih ingat jelas awal kita dekat, polos dan menggemaskan menurutku. Mungkin karna kita masih duduk di bangku SMP kala itu. Kamu tahu? Aku diam-diam menjadikan kamu alasan untukku semangat melangkah ke sekolah, kamu menyebalkan. Tapi anehnya, aku senang menjadi target keusilanmu. Hingga kini, aku percaya. Bahwa kamu adalah benar cinta pertamaku, dimana segalanya masih naif dan terasa manis.


13/8/2019: Sedikit cerita tentang awal mula, dan kita yang mulai dingin

Hai.
Terkesan singkat memang, tidak seperti biasanya aku yang memanggilmu dengan sebutan aneh yang anehnya kamu tak pernah protes dengan hal itu.
Mungkin kamu merasa ada sedikit hal yang berbeda dariku, sikapku yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi sedikit pemarah dan cuek. Namun ada alasan dibalik semua itu.
Ingatkah dulu kita dikelas yang sama, awalnya aku yang iseng meledekmu yang digosipkan suka dengan salah satu temanku. Tapi lama kelamaan malah kamu yang seperti balas dendam menjahiliku dengan sejuta tingkah menyebalkan. Mulai dari mengacaukan tugas sekolahku, menyembunyikan tas dan kotak pensilku, atau bahkan melempariku dengan pulpen saat ada tugas merangkum dan tak ada guru yang masuk ke kelas.


Ya, kita dekat berawal dari semua perdebatan dan pertengkaran yang tak ada habisnya setiap hari. Namun jujur, aku selalu menantikan perdebatan-perdebatan kecil tersebut. Bukan maksudku aku benci padamu, namun secara tak sadar aku jadi suka mendengarkan suaramu yabg berusaha memenangkan perdebatan denganku atau sekedar menatap tajam matamu ketika kamu mulai berulah lagi.
Ya,memang tak ada yang salah sih. Tapi lama kelamaan ada sesuatu yang mengubah dunia kita. Orang orang mulai bertanya-tanya ada apa di hubungan kita, namun selalu kujawab hanya teman dan selalu kau akhiri dengan tawa meledek.


Namun tak bisa kupungkiri juga memang ada hal-hal yang membuatku bahagia saat melihatmu. Mulai dari saat raut wajahmu yang kesal jika kalah berdebat denganku, senyuman lebarmu ketika kamu berhasil membuatku panik dengan berbagai macam prank buatanmu, genggaman tanganmu saat kau ingin menunjukan sesuatu yang akhirnya malah membuat kita berdebat lagi, atau bahkan hanya sekedar tak sengaja memergokimu yang sedang melirikku.


Ah, ajaib memang. Bagaimana bisa aku yang setiap hari kau buat kesal bisa sebegitu merindukanmu dan semua kenangan tentang kita, tentang senyumanmu yang menyihir bibirku untuk secara otomatis ikut tersenyum juga, tentang genggaman tanganmu yang makin erat ketika aku berusaha untuk lepas, juga tentang gelisahmu ketika aku mulai menangis karena prank mu yang kadang kelewat batas.


Entahlah, aku terkadang merasa bersalah juga kesal secara bersamaan. Aku merasa bersalah karena tak berusaha menghapus jarak yang ada, aku kesal karena kamu pun tak ada usaha untuk melangkah memperbaiki apa yang telah rusak. Terkadang aku rindu kamu yang jahil dan bikin darah tinggi ketimbang kamu yang dingin dan membisu.



Tapi ternyata kebahagiaan itu tak bertahan lama, sayang sekali karna sepertinya hanya aku yang antusias disini. Ntah apa maksudmu tiba-tiba ingin berhenti, tak lama kemudian aku tahu. Kamu punya mawar yang lain, sepertinya karena itu kamu selama ini hanya seperti melirik bukan tertarik. Dandelion sepertiku ini jelas kalah telak, mawarmu itu jujur saja memang terlihat sangat cantik. Tapi aku kesal pada bagian kamu seolah sangat peduli padaku, lalu tiba-tiba membuangku begitu saja. Dan aku lebih benci lagi terhadap diriku, yang tidak bisa terima pada kenyataan.



23/2/2021: Akhir.

Kembali tertarik pada lawan arah putaran waktu.
Dimana ada lelaki yang selalu meragu.
Dan perempuan yang keras kepala menolak hatinya sendiri.
Bicara tentang lelaki yang ingin pamit.
Pergi, raga mereka akan jauh terpisah.
Sang perempuan yang tak ingin mengakui hati nya tak rela.
Tanpa sadar bicara dengan nada kecewa.
Namun lengannya tertahan, ia pun luluh.
'mana mungkin aku meninggalkan seseorang yang aku sayangi'

Jarum jam pun berputar cepat.
Semuanya tumbuh dengan semestinya.
Saat mereka sudah hampir lupa.
Mereka bertemu kembali di sebuah pelabuhan.
Dari masing-masing orang, 1 pertanyaan diajukan.
'Kamu suka sama aku kan?'
'Kamu masih ada rasa untukku kan?'
Saat itu semuanya jelas, harusnya bahagia.
Namun ntah mengapa, lelaki itu tak menahan si perempuan lagi.
Tersenyum manis lalu mendahului si perempuan masuk kedalam kabin kapal, tanpa menoleh lagi.
Perempuan itu pun bingung.
Perahu yang ia tumpangi akhirnya berlayar, namun tak ada apapun untuk dia pegang agar tidak jatuh dari perahu yang menerjang ombak besar tersebut.
Sedangkan ntah kenapa, ia seperti menahan diri untuk ikut menyusul masuk ke kabin kapal.

Tak lama, dari dek kapal.
Akhirnya yang tak punya pegangan jatuh.
Nyeri, air laut yang dingin menusuk sekujur tubuhnya.
Ia pun perlahan membeku.
Setitik cahaya emas di dadanya meredup dan berubah warna menjadi biru.
Di akhir hayatnya, di detik-detik sebelum ia menutup mata.
Ia tersenyum penuh penyesalan.
'Maaf, aku mencintaimu'



Dan begitulah kita usai. Singkat, sederhana, dan sudah lama berlalu. Sampai pada kemarin hatiku akhirnya berhenti. Mungkin aku sudah tidak akan lagi mengharapkanmu, namun kamu akan dapat tempat tersendiri di hati. Terimakasih sudah sempat berbagi rasa padaku, maaf jika selama ini aku banyak memberimu kecewa. Aku hanya bingung bagaimana mengekspresikannya, hingga akhirnya aku tumpahkan semua disini.

Sampai jumpa di kesempatan lain. Aku harap semoga kamu makin bersinar, begitu pun aku. Doakan di setiap dandelion yang tertiup angin, akan tumbuh dandelion lainnya di berbagai tempat yang indah.


Ending, but not the end.

Komentar

Postingan Populer